Kabupaten Probolinggo memiliki luas sekitar
1.696,166 Km persegi, tepatnya pada 112° 51' - 113° 30' Bujur Timur dan 7° 40'
- 8° 10' Lintang Selatan, berada pada ketinggian 0 - 2500 m dpl[1].
Populasi penduduk total kabupaten 1.004.967 jiwa dengan kepadatan 592,49
jiwa/km2.
Kabupaten Probolinggo mempunyai banyak objek
wisata, di antaranya Gunung Bromo, Air terjun Madakaripura, Pulau Giliketapang dengan taman lautnya yang indah,
Pantai Bentar, Ranu Segaran, dan Sumber Air Panas yang terletak di desa Tiris
serta Candi Jabung yang mencerminkan kejayaan masa lalu. Selain itu Kabupaten
Probolinggo memiliki bermacam-macam seni budaya khas, di antaranya Kerapan Sapi, Kuda Kencak, Tari Glipang dan Tari Slempang, Tari Pangore
dan Seni Budaya masyarakat Tengger. Selain obyek
wisata dan keseniannya Kabupaten Probolinggo juga menghasilkan buah-buahan, sayur-sayuran
serta hasil perkebunan lainnya. Kabupaten ini dikelilingi oleh Gunung Semeru, Gunung Argopuro, dan Pegunungan Tengger. Potensi lain yang dimiliki
Kabupaten Probolinggo seperti Sumber Daya Alam berupa tembakau, mangga, anggur,
semangka, tebu, pohon jati, udang, pasir, emas, tembaga, mangaan, biji
besi, belerang, sulfur, dan ikan laut.
Kabupaten Probolinggo mempunyai semboyan "Prasadja Ngesti
Wibawa". Makna semboyan : Prasadja berarti :
bersahaja, blaka, jujur, bares, dengan terus terang, Ngesti
berarti : menginginkan, menciptakan, mempunyai tujuan, Wibawa
berarti : mukti, luhur, mulia. "Prasadja Ngesti Wibawa"
berarti : Dengan rasa tulus ikhlas (bersahaja, jujur, bares) menuju
kemuliaan.[2]
Epitemologi
Ketika seluruh Wilayah Nusantara dapat
dipersatukan di bawah kekuasaan Majapahit tahun 1357 M
(1279 Saka), Patih Gajah Mada telah dapat
mewujudkan ikrarnya dalam Sumpah Palapa, menyambut
keberhasilan ini, Raja Hayam Wuruk berkenan
berpesiar keliling negara. Perjalanan muhibah ini terlaksana pada tahun 1359 M
(1281 Saka).[3]
Menyertai perjalanan bersejarah ini, Empu
Prapanca seorang pujangga ahli sastra melukiskan dengan kata-kata, Sang Baginda
Prabu Hayam Wuruk merasa suka cita dan kagum, menyaksikan panorama alam yang
sangat mempesona di kawasan yang disinggahi ini. Masyarakatnya ramah, tempat
peribadatannya anggun dan tenang, memberikan ketenteraman dan kedamaian serta
mengesankan. Penyambutannya meriah aneka suguhan disajikan, membuat Baginda
bersantap dengan lahap. Taman dan darma pasogatan yang elok permai menyebabkan
Sang Prabu terlena dalam kesenangan dan menjadi kerasan. Ketika rombongan tamu
agung ini hendak melanjutkan perjalanan, Sang Prabu diliputi rasa sedih karena
enggan untuk berpisah. Saat perpisahan diliputi rasa duka cita, bercampur
bangga. Karena Sang Prabu Maha Raja junjungannya berkenan mengunjungi dan
singgah berlama-lama di tempat ini. Sejak itu warga di sini menandai tempat ini
dengan sebutan Prabu Linggih. Artinya tempat persinggahan Sang Prabu sebagai
tamu Agung. Sebutan Prabu Linggih selanjutnya mengalami proses perubahan ucap
hingga kemudian berubah menjadi Probo Linggo. Maka sebutan itu kini menjadi
Probolinggo.[4]
POTENSI PARIWISATA
1.
Danau
Ranu Segaran
Ranu Segaran terletak di Desa Segaran,
kecamatan Tiris, +60 km arah tenggara dari Kota Probolinggo. Pintu masuk utama
terletak di pertigaan sebelum Koramil Tiris. Ranu Segaran merupakan danau alam,
air tampak jernih, lingkungannya masih alami dan udaranya masih segar, sehingga
memberikan kenyamanan dan ketenangan tersendiri bagi wisatawan. Hawa di sekitar
terasa dingin, karena berada di ketinggian 600m dpl. Ranu Segaran adalah salah
satu danau yang terjadi akibat aktivitas vulkanik. Konon dulunya ini adalah
bekas kawah namun karena sudah tidak aktif lagi dan tergenang air, akhirnya
berubah menjadi danau.[5]
Tiba
di Ranu Segaran Anda akan menjumpai sebuah danau luas yang masih alami dan
boleh dikatakan masih belum tersentuh modernisasi wisata. Di sini terdapat
sebuah warung yang menjual berbaga jenis makanan bagi para pengunjung. Bagi
yang suka memancing, di sini juga disediakan rakit-rakit yang bisa digunakan
untuk mencari ikan di tengah danau.[6]
2.
Candi Jabung
Candi
Jabung terletak di Desa Jabung, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo. Bahan
Bangunan terbuat dari batu bata dan ukuran candi Jabung adalah panjang 13,13
meter, lebar 9,60 meter dan tinggi 16,20 meter. Candi Jabung berdiri di
sebidang tanah berukuran 35 meter x 40 meter. Pemugaran secara fisik pada tahun
1983-1987, penataan lingkungan luasnya bertambah 20,042 M2 dan terletak pada
ketinggian 8M diatas permukaan air laut. Candi Jabung menghadap ke arah Barat,
pada sisi barat menjorok ke depan, merupakan bekas susunan tangga naik memasuki
Candi. Disebelah Barat Daya halaman candi terdapat bangunan candi. Menara sudut
di perkirakan penjuru pagar, fungsinya sebagai pelengkap bangunan induk Candi
Jabung. Candi Menara sudut terbuat dari bahan batu bata, bangunan candi
tersebut berukuran tiap-tiap sisi 2.55 meter, tinggi 6 meter.[7]
Arsitektur Candi Jabung sangat menarik,
mempunyai komponen berupa batur, kaki, tubuh dan atap, pada bagian tubuh
bentuknya bulat (silinder segi delapan) berdiri diatas bagian kaki candi yang
betingkat tiga berbentuk persegi. Sedangkan pada bagian atapnya pagoda (stupa)
tetapi pada bagian puncak sudah runtuh dan atapnya berhias motif sulur-suluran.
Di dalam bidik candi terdapat lapik area, berdasarkan inskripsi pada pintu
masuk candi Jabung didirikan pada tahun 1276 c (saka) = 1354 Masehi masa
kebesaran kerajaan Majapahit. Menurut keagamaan, Agama Budha dalam kitab Nagara
Kertagama dan Pararaton Candi Jabung di sebutkan dengan nama
Bajrajinaparamitapura. Dalam kitab Nagara Kertagama candi Jabung di kunjungi
oleh Raja Hayam Wuruk pada tahun 1359 Masehi pada kitab Pararaton disebut
Sajabung yaitu tempat pemakaman Bhra Gundul salah seorang keluarga raja.[8]
Pemugaran
candi Jabung dilaksanakan oleh proyek pemugaran dan pemeliharaan peninggalan
sejarah dan purbakala Jawa Timur yang bekerjasama dengan direktorat
perlindungan dan pembinaan peninggalan sejarah dan purbakala Jakarta, bidang
permusiuman dan kepurbakalaan kantor wilayah departemen pendidikan dan
kebudayaan Propinsi Jawa Timur, suaka peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa
tImur dan Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Probolinggo
serta tidak kecil pula bantuan pemerintah Daerah tingkat II Kabupaten
Probolinggo.[9]
3.
Danau Ronggojalu

Selain
dijadikan sebagai obyek wisata, danau Ronggojalu juga digunakan sebagai sarana
air bersih dan industri untuk kepentingan masyarakat Probolinggo. Danau Ronggojalu
terletak di kecamatan Tegalsiwalan, dengan mata air yang terbentuk dari
bentukan alam dan memiliki kapasitas 3000 liter per harinya. Dari volume air
yang melimpah dan jernih inilah, masyarakat memanfaatkan danau Ronggojalu
sebagai sarana irigasi untuk sawah dan untuk kebutuhan air minum kota. Di
lokasi danau ini, sebagai fasilitas untuk rekreasi keluarga pihak pengelola
menyediakan kolam untuk anak-anak, penyewaan ban dan beberapa warung yang
menjual berbagai makanan. Suasana yang sejuk dan hijau, ditambah dengan udara
yang bersih sangat cocok menjadikan danau ini sebagai area rekreasi keluarga.[10]
4.
Pantai Bentar
Pantai Bentar
Pantai
Bentar Indah, terletak di tepi jalan raya Surabaya - Banyuwangi, tepatnya
berada di Kecamatan Gending, sekitar 7 Km dari pusat kota Probolinggo. Pantai
ini tidak terlalu ramai dikunjungi, tetapi menawarkan satu pemandangan yang
indah dan menawan. Karena terletak bersebrangan dengan bukit dan hutan bakau,
menjadikan pantai ini serasa menyatu dengan alam yang hijau. Terdapat sebuah
dermaga yang panjang kearah tengah laut dan bisa dilalui dengan aman, dan bisa
menambah keindahan laut Bentar saat berada di ujung dermaga.[11]
5.
Pulau
Pasir
Pulau
Pasir terletak di sebelah utara Pantai Bentar. Cukup dengan membayar
Rp.10.000/orang dan tak lebih dari 15 menit perjalanan menggunakan perahu motor
dari dermaga Pantai Bentar. Pesona tersembunyi di Pulau Pasir dapat ditemukan
saat tiba di hamparan pasir berwarna hitam. Rimbunan pohon bakau menjadi ikon
pertama dari Pulau Pasir. Deretan Pohon Bakau di sekitar Pulau Pasir terlihat
seperti jalan setapak bagi para penghuni Laut Bentar. Dari balik rimbunan bakau
banyak terlihat burung Kuntul. [12]
Pulau ini meski
belum diakui pemerintah pusat, pulau ini mulai dimanfaatkan untuk wisata
bahari. Tentang hal ini, sudah diusulkan ke pemerintah pusat pada 2011 lalu agar
diakui sebagai pulau kecil milik Probolinggo. Menurut Kepala Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata (Disbudpar), Tutug Edi Utomo, merujuk kepada UU RI Nomor 27/2007
tentang Pengelolaan Wilayah Pasir dan Pulau-pulau Kecil. Namun hingga kini
Kementerian Kelautan dan Perikanan juga Kementerian Dalam Negeri belum
memberikan jawaban terkait keberadaan Pulau Pasir.[13]
6.
Air Terjun Madakaripura
Air terjun Madakaripura, terletak di
kecamatan Lumbang, Probolingo dan merupakan air terjun yang sangat indah untuk
dikunjungi. Air terjun ini masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger
Semeru, dan memiliki bentuk seperti ceruk yang dikelilingi bukit yang
meneteskan air pada seluruh tebingnya seperti layaknya hujan yang turun. Untuk
mencapai lokasi air terjun ini tidak begitu sulit, dan akan melewati
pemandangan yang sangat indah dan rute perjalanan yang tidak terlampau curam.
Melintasi dinding-dinding bukit di jalan menuju air terjun akan memberikan
sensasi yang luar biasa mengharukan,. Bila beruntung, adanya lutung yang saling
berlompatan dan bersenda gurau satu dengan yang lainnya akan memberikan nuansa
hutan belantara yang jarang bisa ditemukan di tempat lain. Di balik Air Terjun
Madakaripura terdapat pula sebuah gua, dan untuk masuk ke sana harus terlebih
dahulu melewati kolam air yang ada tepat di bawah Air Terjun Madakaripura.
Dengan arus air setinggi 7 Meter dan arus air yang sangat deras membuat goa ini
sulit untuk dijangkau. Dibalik keindahannya yang agung, Madakaripura dipercaya
sebagai tempat bertapa mahapatih Gajahmada pada era kerajaan Majapahit.[14]
7.
Pulau
Gili Ketapang
Gili Ketapang adala sebuah desa, atau
lebih tepatnya pulau kecil di Selat Madura, tepatnya 8 Km di lepas pantai utara
Probolinggo yang berlokasi di Kecamatan Sumberasih.
Memiliki luas wilayah sebesar 68
hektar, dihuni oleh sebagian besar etnis Madura yang bermatapencaharian sebagai
nelayan dengan kualitas hidup yang bisa disebut makmur. Pulau Gili Ketapang
terhubung dengan Pulau Jawa, dan bisa diakses melalui pelabuhan Tanjung
Tembaga, Kota Probolinggo yang hanya berjarak sekitar 30 menit perjalann. Pulau
ini masih terbilang pulau yang masih perawan, dimana terdapat laut yang masih
biru dan bebas pencemaran dan di dasar laut terlihat terumbu karang yang jernih
dan berwarna-warni. Masyarakat sekitar Gili Ketapang meyakini bahwa desa
Ketapang awalnya menyatu dengan Pulau Jawa. Setelah gempa dasyat pasca letusan
gunung Semeru, desa Ketapang terlepas dengan sendirinya dari Pulau Jawa. Karena
itu nama Gili Ketapang berasal, dalam bahasa Madura, Gili memiliki arti
mengalir, dan Ketapang adalah nama asli tempat tersebut.[15]
[2] ibid
[4] Ibid
[6] Ibid
[8] Ibid
[9] Ibid
[12] Prihan Suhudi, dkk. Keindahan
Tersembunyi Dari Pulau Pasir. Majalah Bromo. Edisi Tebatas/2012.
[13] Ikhsan Mahmudi. Pulau Pasir
Probolinggo Menunggu Pengakuan. Dalam http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=8ce6ac656b375037b431a5a43902074a&jenis=1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc.
Diakses 13 Maret 2013.